HUKUM DAN ADAB
BERKURBAN
Syaikh Abdul Ilaah bin Sulaiman
Ath-Thayyar
Segala puji bagi
Allah, pujian mereka yang bersyukur. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpah
atas Muhammad yang di utus sebagai rahmat atas seluruh alam, begitu pula
terhadap keluarga dan para shahabat beliau serta mereka yang mendapat petunjuk
dari beliau dan mengamalkan petunjuk beliau hingga hari akhir nanti …
amma
ba'du :
Allah 'Azza wa
Jalla (Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia) mensyari'atkan berkurban untuk
memudahkan manusia di Hari Raya. Allah memerintahkan bapak para nabi, Ibrahim 'alaihissalam
untuk menyembelih putranya Ismail,
maka beliau dengan serta merta memenuhi perintah Allah dengan tanpa ada
keraguan. Maka sebagai ganti Nabi Ismail Allah menurunkan dari langit :
(107) Dan Kami tebus anak itu dengan
dengan seekor sembelihan yang besar. (Q.S
Ash-Shaffat 107)
Semenjak saat itu, manusia menyembelih binatang ternak untuk melaksanakan
perintah Allah, menyembelih hewan kurban, karena ia termasuk ketaataan yang paling utama. Berkurban hukumnya adalah
sunnah muakkadah. Dimakruhkan hukumnya untuk tidak melaksanakannya dalam
keadaan mampu karena keutamaan berkurban yang sangat agung.
Ø Definisi (أضحية)berkurban menurut etimologi/bahasa dan
terminologi/istilah:
-
Berkata Imam Al-Jauhari : Imam Al-Ashma'i menjelaskan:
ada empat bentuk kata : أُضحية , إِضحية dengan dhammah hamzah dan kasrah,
jamaknya adalah أضاحي . Yang
ketiga adalah ضحية jamaknya adalah ضحايا . Dan yang keempat adalah أضحاه . Jamaknya adalah أضحى. Seperti أرطأة dan أرطى. Dengan nya dinamakan يوم
الضحى ) Imam Nawawi menyebutkannya dalam Kitab Tahrir At-Tanbih.
Berkata Al-Qadhi, dinamakan demikian karena kurban dilakukan pada waktu dhuha,
yaitu ketika hari mulai agak siang.
-
Adapun
secara terminologi, أضحية adalah : Menyembelih
unta, lembu atau kambing di Hari Kurban dan Hari-hari Tasyriq (Tanggal 11, 12,
13 Dzulhijjah) untuk mendekatkan diri pada Allah.
Hikmah
disyareatkannya:
1. Untuk
mendekatkan diri pada Allah. Allah
berfirman :
"Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan
berkurbanlah" (Q.S Al-Kautsar
Dan firman-Nya:
"Katakanlah:
"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam" (Q.S Al-An'aam 162). Yang dimaksud dengan
نُسُك adalah berkurban untuk
mendekatkan diri pada Allah.
2. Menghidupkan
sunnah/tuntunan imamnya orang-orang yang bertauhid, Ibrahim 'Alaihissalam,
dimana Allah mewahyukan pada beliau untuk menyembelih putranya, Ismail, maka
Allah menggantinya dengan kambing kibas, lalu Ibrahimpun menyembelihnya. Allah
berfirman :
(107) Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor
sembelihan yang besar.
3.
Untuk memberi
kelapangan pada keluarga di Hari Raya.
4.
Menebarkan
kebahagiaan pada kaum fakir miskin dengan memberikan sedekah pada mereka.
5. Bersyukur pada Allah Ta'ala atas
karunia-Nya menundukkan hewan-hewan ternak pada kita. Allah
berfirman :
"Maka makanlah
sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya
(yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu,
mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali
tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu
mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang berbuat baik". (Q.S Al-Hajj 36-37)
ü
Hukumnya: Mayoritas para ulama
berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang
ditekankan). Makruh hukumnya untuk tidak melaksanakannya jika mampu. Sebagian
ulama lain berpendapat hukumnya sunnah yang wajib atas setiap keluarga, yang
mampu melakukannya. Ini berdasar firman Allah : "Maka dirikanlah shalat
karena Rabbmu dan berkurbanlah"
(Q.S Al-Kautsar : 2) dan sabda rasul :
"Barangsiapa
yang menyembelih sebelum shalat, maka hendaklah ia mengulangi" (Muttafaq 'Alaihi).
ü
Keutamaannya: Tidak ada hadits yang shahih
tentang keutamaan berkurban, selain dari kesungguhan beliau untuk melakukannya.
Ada beberapa
hadits yang masih diperbincangkan keshahihannya, akan tetapi satu sama lain
saling menguatkan. Diantaranya adalah sabda nabi : Tidak ada amalan anak Adam
pada Hari Kurban yang lebih dicintai Allah ketimbang berkurban. Hewan kurban
itu akan datang pada Hari Kiamat dengan tanduk, kuku dan rambutnya.
وإن الدم ليقع من الله عز وجل بمكان قبل أن يقع على
الأرض فطيبوا بها نفساً
(H.R Ibnu Majah dan Tirmidzi, beliau menghasankannya).
Dan
sabda beliau ketika di tanya apakah sembelihan ini, maka beliau menjawab :
Tuntunan ayah kalian Ibrahim. Mereka
bertanya : Apa bagian kita darinya/apa pahala yang akan kita dapatkan ? Beliau
menjawab : "Setiap helai rambut, akan dibalasi dengan satu kebaikan".
Lantas mereka bertanya : "Bagaimana dengan bulu (domba) ? Maka beliau
menjawab: "Setiap bulu juga akan dibalas dengan satu kebaikan". (H.R
Ibnu Majah dan Tirmidzi, beliau menghasankannya).
Hukum-hukum yang berkaitan dengan kurban :
1.
Bagi
orang yang berniat untuk berkurban, maka semenjak masuk sepuluh hari pertama Bulan Dzulhijjah , ia
dilarang memotong rambut dan kukunya hingga datang waktu berkurban. Ini
berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari Ummu
Salamah bahwa Nabi bersabda : "Jika kalian melihat hilal pertanda
datangnya Bulan Dzulhijjah, dan kalian ingin untuk berkurban, maka janganlah ia
memotong rambut atau kukunya). (H.R Muslim) Dalam sebuah riwayat : "Maka jangan sekali-kali ia mengambil
rambut atau memotong kukunya" (H.R Muslim) .
Hikmah dilarangnya hal
tersebut : Agar kondisi orang yang berkurban masih sempurna belum
ada yang terkurangi, untuk kemudian di bebaskan dari api neraka. Ada juga yang mengatakan :
Diserupakan dengan orang yang sedang ihram. (Muslim, Syarah Imam Nawawi :
13120)
Permasalahan
: Apa hukum
orang yang memotong rambut atau kukunya ?
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah
menuturkan : "Orang yang berniat menyembelih kurban, hendaklah tidak
memotong rambut dan kukunya. Jika dia melakukannya, maka hendaklah ia
beristighfar pada Allah dan ia tidak dikenakan fidyah menurut kesepakatan (ulama),
baik ia melakukannya karena kesengajaan atau lupa" (Kitab Al-Mughni : 13363)
2. Umur (hewan kurban) : Muslim
dalam Shahihnya meriwayatkan bahwa nabi bersabda : "Janganlah kalian
menyembelih untuk kurban, kecuali al-musinnah (yang sudah berumur satu
tahun/telah berganti gigi), kecuali jika sukar didapati, maka boleh yang baru
berumur enam bulan" (H.R Muslim :
1963). Al-musinnah pada binatang ternak yaitu tsaniah.
Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam
Kitab Zaad Al-Ma'ad 2/317 : "Nabi memerintahkan mereka untuk menyembelih kurban yang sudah berumur
enam bulan dan tsaniah yaitu yang sudah
berumur satu tahun, dan bukan lainnya" .
ü
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir
bahwa nabi membagi-bagi hewan yang akan dikurbankan pada para sahabatnya. 'Uqbah kebagian kambing jadz'ah
(yang berusia enam bulan), lantas beliau bersabda : "Sembelihlah
olehmu". jadz'ah menurut madzhab hanafi dan hambali adalah yang
telah genap enam bulan. Imam Tirmidzi menukil dari Waki' bahwa jadz'ah
adalah yang telah genap enam atau tujuh bulan. Penulis Kitab Al-Hidayah
mengatakan ats-Tsani dari unta
adalah yang telah genap berusia lima
tahun. Adapun ats-Tsani dari sapi dan kambing kacang, yaitu yang genap berusia dua tahun
dan akan masuk tiga tahun.
3. Keselamatannya : Hewan kurban yang memenuhi
syarat adalah yang tidak cacat. Karena itu tidak sah (untuk dijadikan kurban) :
Yang pincang, yang tanduknya patah atau telinganya terpotong, yang sakit, yang
kurus yang tidak , Ini berdasarkan sabda
nabi : Ada
empat kondisi hewan tidak sah untuk dikurbankan : - Yang rusak matanya, - yang
sakit, - yang pincang, - yang kurus yang tidak bergajih lagi" (H.R Ahmad 4/284, 281 dan Abu Dawud : 2802)
4. Yang paling utama : Kurban yang paling utama
adalah كبشاً أملح أقرن, yang mana sifat ini disukai oleh Rasul dan beliau menyembelih dengannya, sebagaimana
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bahwa nabi berkurban dengan dua
ekor kambing بكبشين أملحين أقرنين …(H.R Bukhari : 5558 dan Muslim : 1966) Al-amlah
ditafsirkan dengan yang kulitnya putih bercampur hitam, sebagaimana
diriwayatkan Imam Muslim : 1967 bahwa Rasulullah memerintahkan
أمر بكبش أقرن يطأ في سواد، ويبرك في
سواد، وينظر
في سواد
(Al-Hadits
: Muslim, Syarah An-Nawawi : 13105) Imam
Nawawi berkata bahwa maknanya قوائمه, perut dan sekitar matanya berwarna hitam, wallahu
a'lam.
Disunnahkan untuk menggemukkan hewan kurban dan
memperbagusnya. Allah
berfirman :
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan
syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan
hati" (Q.S Al-Hajj 32)
Ibnu
'Abbas berkata :
"Mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah yaitu dengan menggemukkan (hewan
kurban), واستعظامها واستحسانها) (Imam
Ath-Thabari: Jami' al-Bayan : 17156)
Bahkan semakin
mahal, maka semakin utama, jika ia meniatkan untuk mendekatkan diri pada Allah,
baik itu membebaskan budak atau hewan kurban, sebagaimana diriwayatkan dalam
Shahih Al-Bukhari bahwa Rasulullah ditanya: membebaskan budak manakah yang
lebih utama? Maka beliau menjawab : "Yang paling mahal dan berharga
menurut pemiliknya" (Al-Bukhari : 2518).
Berkata Imam Ibnu
Khuzaimah rahimahullah : Setiap yang menakjubkan jika dipandang
seseorang, maka pahalanya lebih besar di sisi Allah, jika ia korbankan karena
Allah" (Shahih Ibnu Khuzaimah : 14291)
5. Waktu
berkurban : Yang disepakati (oleh para ulama) adalah dilakukan pagi hari
setelah menunaikan Shalat 'Ied bersama dengan imam. Tidak sah melaksanakan kurban
sebelum Shalat 'Ied. Inilah yang disepakati. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Nawawi.
ü
Imam Muslim meriwayatkan
dalam shahihnya bahwa nabi bersabda: "Barangsiapa yang menyembelih sebelum
shalat, maka ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang
menyembelih setelah shalat, maka telah sempurna ibadahnya dan bersesuaian
dengan sunnah kaum muslimin" (H.R
Muslim : 5/1961)
Dalam riwayat Muslim dari Al-Bara' bin 'Azib
bahwa nabi berkhutbah dan menegaskan dalam sabdanya : "Janganlah kalian
menyembelih sampai ia menunaikan shalat (ied)" (H.R Muslim : 5/1961)
Imam Ibnul Qayyim mengatakan dalam Kitab Zaad
al-Ma'aad : Nabi tidak meninggalkan untuk berkurban. Beliau berkurban dengan
dua ekor kambing dan beliau sembelih setelah Shalat 'Ied dan beliau kabarkan
bahwa seseorang yang menyembelih sebelum shalat, maka ia belum berkurban,
tetapi daging yang ia berikan pada keluarganya. Inilah yang nyata dari tuntunan
dan petunjuk beliau" (Zaad
al-Ma'ad: 2317).
6. Tuntunan yang disunnahkan ketika menyembelih kurban : Disunnahkan untuk
mengarahkan hewan kurban ke arah kiblat dan mengucapkan :
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ
السَّموَاتِ وَالأرْضِ حَنِيْفاً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنّ صَلَاتِيْ
وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أَمَرْتُ وَأَنَا
مِنَ المُسْلِمِيْنَ
Dan di saat menyembelih mengucapkan :
بِاسْمِ الله وَاللهُ أَكْبَر،
اللّهمّ هَذاَ مِنْكَ وَلَكَ
Mengucapkan
basmalah adalah wajib menurut Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mamakan
binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika
menyembelihnya" (Q.S
Al-An'aam 121)
Imam Ibnul Qayyim mengatakan : "Termasuk dari petunjuk
nabi adalah melaksanakan kurban di lapangan, Abu Dawud meriwayatkan hal tersebut dari Jabir
bahwa ia menunaikan Shalat iedul adha bersama nabi. Setelah beliau selesai dari
khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya, lantas beliau membawa seekor kambing
dan beliau sembelih sendiri seraya bersabda:
بسم الله والله أكبر هذا
عني وعمن لم يضح من أمتي
"Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, kurban ini
adalah dari hamba dan mereka yang belum berkurban dari umatku"
Dalam As-shahihain
bahwa beliau berkurban dan menyembelih di lapangan
(Muttafaq 'Alaih)
ü
Ibnu
Battal mengatakan bahwa menyembelih kurban di lapangan adalah sunnah bagi imam,
khususnya menurut pendapat Malik. Beliau mengatakan sebagai mana yang dinukil
oleh Ibnu Wahb : Hal ini dilakukan agar tidak ada orang yang menyembelih
sebelumnya. Al-Muhallab menambahkan: Hendaklah mereka menyembelih setelah imam
dengan keyakinan dan agar mempelajari tuntunan yang diajarkan dalam
menyembelih.
ü
Imam
Muslim meriwayatkan (no hadits 1967) dari hadits riwayat 'Aisyah, dan
didalamnya: "Nabi membawa kambing lalu membaringkannya kemudian beliau
menyembelihnya seraya mengucapkan:
بِاسْمِ الله اللّهمّ تَقَبَّلْ مِنْ
مُحَمّد وَآل مُحَمّد وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمّد
Lalu beliaupun
menyembelihnya.
Dalam riwayat di
atas terdapat dalil disunnahkannya bagi orang yang menyembelih ketika
menyembelih untuk mengucapkan setelah basmalah dan takbir:
اللّهمّ تَقَبّل مِنِّي
Sebagian (ulama)
mengatakan bahwa hal itu disunnahkan sesuai dengan nash ayat :
"Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (H.R Al-Baqarah 127)
7. Berbuat
kebaikan ketika menyembelih. Imam Ibnul Qayyim
mengatakan :
"Nabi memerintahkan manusia agar berbuat kebaikan sewaktu menyembelih dan
ketika membunuh juga bersikap baik dalam melakukannya, sebagaimana diriwayatkan
oleh Muslim dalam shahihnya, dari hadits Syaddad bin Aus : "Ada dua hal
yang aku hafal dari rasulullah : "Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan
atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, berbuat baiklah dalam
melakukannya, dan jika kalian menyembelih, maka berbuat baiklah dalam
menyembelih, tajamkan pisau yang (digunakan untuk menyembelih) ringankanlah
rasa sakit hewan sembelihannya"
(H.R Muslim).
Nabi
meletakkan kaki beliau pada leher hewan kurban agar tidak bergerak, ini adalah
kasih sayang beliau sebagaimana yang diceritakan Anas ketika ia menyaksikan
rasul sedang menyembelih. Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath : Mereka
bersepakat bahwa hewan kurban dibaringkan pada sisi sebelah kiri, dan
meletakkan kakinya di sebelah kanan agar mudah bagi si penyembelih untuk
mengambil pisau dengan tangan kanan dan memegang kepala hewan kurban dengan
tangan kiri"
8. Sah hukumnya
mewakilkan dalam menyembelih. Disunnahkan
agar seorang muslim menyembelih sendiri hewan kurbannya sebagaimana yang
dilakukan nabi, jika ia mewakilkan dalm menyembelih, maka diperbolehkan. Tidak
ada halangan baginya dan hal ini tidak diperselisihkan menurut para ulama.
9. Pembagian (daging) nya yang
sesuai dengan tuntunan : Disunnahkan membagi daging hewan kurban menjadi tiga: untuk
keluarganya sepertiga, disedekahkan sepertiga bagian dan dihadiahkan pada
sahabat-sahabatnya sepertiga. Ini berdasarkan sabda nabi : "Makanlah dan وادخروا sedekahkanlah" (Muslim : 6/80).
Jika dia tidak
membagi seperti pembagian di atas, maka juga diperbolehkan, seperti jika ia
menyedekahkan semuanya, atau untuk dirinya semuanya atau ia hadiahkan semuanya.
10. Upah bagi orang yang
menyembelih adalah
bukan daging kurban, ini berdasarkan ucapan Ali: Rasul memerintahkanku untuk أقوم
على بدنة dan agar aku menyedekahkan
daging, kulit dan جلالها dan agar aku tidak
memberikan pada orang yang menyembelih dari daging kurban sedikitpun, dan ia
berkata : Kami memberinya upah tersendiri" (Muttafaq 'Alaihi)
Beberapa
permasalahan penting dan ucapan para ulama :
a) Disyari'atkannya
berkurban. Kaum
muslimin telah bersepakat. Syaikhul Islam mengatakan : "Berkurban adalah
lebih utama dari bersedekah senilai harganya, jika ia memiliki harta dan dia
ingin untuk mendekatkan diri pada Allah, maka hendaklah ia berkurban".
Beliau juga mengatakan : "Allah telah menggabungkannya dengan shalat dalam
beberapa ayat dalam Al-Qur'an, diantaranya:
"Katakanlah:
"Sesungguhnya shalatku, ibadatku …" (Q.S Al-An'aam 162)
"Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan
berkurbanlah" (Q.S
Al-Kautsar : 2)
Berkurban
yang dilakukan pada hari yang agung itu, hari kurban yang agung, padanya
terkandung sedekah pada kaum fakir dan memberikan kelapangan pada mereka"
b) Berkata Syaikh
Al-Bassaam : Pada asalnya kurban adalah untuk mereka yang hidup, dan dibolehkan
untuk dijadikan sedekah bagi mereka yang sudah meninggal, sehingga mereka
mendapatkan pahalanya. Akan tetapi ada kekeliruan pada sebagian negeri yang
mereka hanya menjadikan kurban bagi mereka yang sudah tiada, mereka menyangka
hal itu adalah khusus bagi mereka. Karena itu jarang sekali orang-orang yang
masih hidup jarang sekali yang berkurban untuk diri mereka sendiri. Jika (orang
yang akan meninggal) menulis wasiat maka yang pertama ia wasiatkan adalah
kurban, sesuai dengan kemampuannya, Jarang yang berwasiat selain kurban, dan
membagikan makanan di malam-malam Ramadhan. Hal ini kembalinya pada kurangnya
para ulama yang menulis wasiat mereka tidak mengingatkan atau mengajari mereka
bahwa wasiat itu selayaknya pada apa yang lebih bermanfaat dalam hal kebaikan.
Berkurban walaupun suatu amalan yang utama dan kebaikan, namun ada
yayasan/amalan-amalan kebaikan yang bisa jadi lebih baik/utama darinya"
c) Syaikhul Islam berkata : "Berkurban dibolehkan bagi si mayit sebagaimana juga
haji dan sedekah untuknya. Jika ia berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan
keluarganya maka hal itu sah. Menurut salah satu dari dua pendapat ulama, yaitu
madzhab malik dan ahmad, karena para sahabat melakukan hal tersebut.
Penulis mohon pada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menerima (amalan) kami,
anda dan segenap kaum muslimin di mana saja, dan agar menjadikan amalan kita
ikhlas untuk mendapatkan wajah-Nya yang mulia. Semoga shalawat dan salam tetap
terlimpah pada Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah
Tuhan seru sekalian alam.
Dikoreksi oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin – anggota Lembaga fatwa – dan beliau
mengomentari sebagai berikut : Saya telah membaca tulisan yang berkaitan dengan
masalah kurban dan hukum-hukumnya. Saya mendapatinya benar dan sesuai.
Allah-lah Yang Memberi taufiq.
Semoga shalawat dan
salam tetap terlimpah pada Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
المرجع:
الأضحية وأحكامها للشيخ عبدالإله بن سليمان
الطيار - دار ابن خزيمة
0 Response to "Hukum dan Adab Berkurban"
Post a Comment